Rabu, Desember 24, 2014

jalan muram


Kita dilahirkan secara sendirian ke dunia. Ibu adalah perantara. Ia bagaikan jalan, mengantarkan kita ke dunia, memperlihatkan arah dan tujuan, hingga akhirnya kaki kita sendiri yang melangkah, otak kita yang memutuskan.

Terkadang jalan akan bercabang. Perempatan, pertigaan, bahkan perlimaan atau mungkin lebih, harus dilalui. Mata kita akan awas pada setiap pengguna jalan yang lain. Hati-hati, kecepatan menjadi titik penentu. Keselamatan jadi penting. Namun, terkadang kita harus memilih resiko. Entah itu besar atau kecil, resiko yang kita pilih akan membuntuti. Ia membonceng di jok belakang, berpegangan erat pada punggungmu
bilamana motor kau pilih sebagai pengantar. Ada saatnya mobil kau gunakan, lalu ia akan duduk disampingmu, memandangmu dengan tatapan tajam, menyeringai, mungkin tersenyum, meskipun kau terus sibuk menyetir mengendalikan laju.

Senin, Desember 15, 2014

Titian Nasib 1



Tahukah kamu? Bahwa nasib itu saling tumpang tindih? Mereka berkesinambungan antara satu dengan yang lain. Satu hitam, yang lain ikut buram.

Kalau saja kau mujur, bisa saja kau dilahirkan pada juragan batik atau jamu. Lalu kau bisa seenaknya memilih sekolah, jurusan, bahkan jajanan yang ingin kau makan. Kalau sial,setidaknya kau masih jadi anak juragan!

Minggu, September 14, 2014

Jarak

Sebenarnya jika kau tahu, jarak hanyalah ilusi. Ia hanya mengelabui pandanganmu yang tak lebih dari pembatasan imaji. Setiap jengkal yang kau lihat, membuat bayangan akan bentuk sebelum adanya menjadi kabur. Ia lari, menghilang, ditelan asap yang bernama fakta. Bahkan ketika itu dilukiskan secara surealis, kata-kata hingga rona tersirat dalam otak berubah, menjadi butiran-butiran yang mengumpul. Setiap butir berpegangan erat. Satu per satu. Memanjang, melebar, meninggi, dan saling mengisi. Begitulah jarak diciptakan.

Kamis, Februari 06, 2014

Pemimpin Cepat Saji = Pemimpi-n?

*Dalam tulisan ini saya kesampingkan semua buku teori yang ada. Saya hanya melihat dalam kacamata faktual saja sebagai keluh kesah seorang manusia. Opini ini bersifat subjektif. Tulisan ini pun tak teratur. Kritik dan saran tentu sangatlah diharapkan oleh penulis,

Manusia tak mampu hidup sendiri. Mereka berbaur satu dengan yang lain. Biasanya membentuk kelompok dengan minimal suatu kesamaan, baik itu tujuan, kegemaran, bahkan sampai kebencian. Tiap-tiap kelompok mau tak mau selalu ada yang dominan. Hal ini dikarenakan cara interaksi masing-masing manusia berbeda.ada yang kuat, mudah diterima, dan ada pula yang lemah dan menjadi pasif.

Selasa, Oktober 22, 2013

Kepada Sahabat

Kita adalah sekelompok
Jiwa yang tetirah pada kemapanan
Mencari madu semau hati
Seperti asap yang keluar
dari cerobong-cerobong pabrik
tempat masa depan diserahkan

kita adalah sekelompok manusia bersekat
pada sunyi malam
bertanya pada keberanian
bagai menerjemahkan lagu angin
yang menghantam sisi
tebing curam peraduan

kita adalah sekelompok manusia penanti purnama
dan dinginnya malam
rasa jadi beku
jarak menjelma semu

dan kita adalah sekelompok manusia yang menyerah
pada aturan baku
memenjara aku dan kamu


(Jarak Ijo, Ngadas. 22 Juli 2013, 22:42)

Rabu, Mei 22, 2013

Pergerakan Dari Tengah ke Tengah



Hidup adalah tentang mengklasifikasikan sesuatu. Tak dapat dipungkiri, manusia sebagai pemeran utama dalam kehidupan, selalu mencoba untuk mengelompokkan segala hal dalam bentuk-bentuk yang lebih mudah dicerna. Mulai dari benda, status sosial, status ekonomi, bahkan sampai kualitas kehidupan itu sendiri, selalu dipilah-pilah menjadi beragam kelompok oleh manusia. Berbagai macam metode dan faktor diramu untuk mengelompokkannya. Apa yang menjadi pembanding? Pembatas? Tiap hal tentu memiliki hakikatnya sendiri. Ini pula yang terjadi dalam pembentukan strata kelas ekonomi dalam masyarakat.
Manusia mengelompokkan status ekonomi seseorang sebagai salah satu cara untuk menegaskan bagaimana pula status sosial yang didapatnya. Akan tetapi, tentu saja pembahasan ini hanya akan disudutkan pada status ekonomi saja, mengingat terbatasnya kemampuan serta waktu yang tersedia.

Rabu, Maret 06, 2013

DELIRIA[i]



Setahun adalah ukuran waktu, semu, hanya buatan manusia. Bukan kau dan aku, tapi kuantitas standar sebagai patokan ukuran. Antara ruang, waktu, bahkan sampai ketidaktahuanmu menjadi saling terkait, mengait, hingga sebab akibat pun membuncit. Setahun bukan sebuah ukuran yang singkat, namun juga tak lama. Relatif. Sampai akhirnya ukuran otak kita yang hanya 1500cc ini menyerah pada keterbatasan kemampuan berpikir, relativitas pun muncul.

Kamis, Januari 10, 2013

Haya dan Baju Keyakinan


Seseorang tak pernah lepas dari apa yang diyakininya. Tentu saja karena ia manusia. Tak luput dari perasaan dan juga akal pikiran yang membutuhkan kepercayaan hingga bersifat yakin. Seorang yang memiliki agama tentu akan berkeyakinan. Bahkan yang atheis sekalipun yakin atas dirinya sendiri, tentang apa yang ia pikirkan dan juga ia lakukan.

Minggu, Oktober 28, 2012

Kepedulian atau Kebutuhan?



Pendidikan adalah investasi bangsa. Kemajuan Negara tentu saja bertumpu pula pada kemajuan pendidikannya. Sayang, di Indonesia tak semua mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan secara adil. Terjadi perbedaan kasta dalam setiap jenjang pendidikan formal. Dibentuknya RSBI dengan biaya mahal dan juga besarnya uang yang harus dikeluarkan untuk menempuh pendidikan tinggi, menjadi sebuah ketakutan bagi rakyat marginal kelas bawah.

Sabtu, Oktober 27, 2012

Damai itu indah?

Permusuhan seringkali dipandang sebagai hal yang negative. Ketika kedamaian menjadi idaman, sebuah anggapan ideal yang menjadi harapan semua mayoritas manusia. Akhirnya pun timbul ungkapan damai itu indah. Laiknya rotasi bumi yang terus berputar, ataupun gerak sistem tata surya yang terus teratur tanpa ada kendala, manusia sebagai mahluk sosial pun berkeinginan demikian. Aku, kau, dan mereka, tak ingin rasanya ada pertikaian ataupun konfrontasi.

Kamis, September 06, 2012

Nasib Waktu


Waktu. Hidup dimana pun, dari dunia sampai akhirat, tak pernah terpisahkan dari kata yang lima huruf itu. Mengikat tiap hal yang nyata maupun tidak, dari maya sampai secara fisik nyata, hingga semua yang tak terjangkau imajinasi kita.

Layaknya panas bumi, waktu sedemikian terselubung, terhalang dari fase ke fase, dari lapisan ke lapisan. Tak ada habisnya ia menggumuli semua yang ada maupun tak ada. Tanpa peduli ia cengkeram materi, kosmos, hingga uraian ide yang terkecil. Dengan misterius ia runtuti kita, dia, mereka, sejak konsepsi bahkan ide, sampai jadi sejarah hingga punah tanpa apa-apa.

Senin, Maret 26, 2012

Mau Kemana ????


Perkerjaan dan profesi. Dua kata yang sering menjadi acuan kita dalam memilih jenjang pendidikan maupun jurusan yang kita ambil. Saat ini, memang mungkin kita telah mengalami pergeseran tujuan pendidikan secara nyata. Jika jaman dahulu pendidikan dimaksudkan secara sempit untuk mengubah pandangan seseorang dari hal-hal mistik menjadi empiris, maka saat ini berubah, untuk mendapatkan perkerjaan secara riil.
Saya secara tidak langsung menjadi teringat jaman politik etis Van Der Venter (semoga benar menulisnya), juga jaman Kartini, Dewi Sartika, Boedi Oetomo, dsb. Saat itu, pendidikan diadakan sebagai sebuah

Selasa, Maret 13, 2012

BOKER


MENULIS = BOKER

Buku, tulisan, dan pendidikan. Tentu tak dapat kita pisahkan. Bahkan bila kita melihat lebih jauh, lebih luas, maju tidaknya suatu kebudayaan pun diukur dan ditunjang oleh minimal ketiga hal tersebut. Sebut saja masa sejarah, masa dimana manusia mulai mengenal tulisan menurut buku diktat zaman SMP, ditandai dengan aksara yang dikumpul dan menjadi sebuah tulisan. Indonesia sendiri masuk masa sejarah pada abad keempat, ditandai dengan ditemukannya prasasti kerajaan Kutai.
Tulisan, saya rasa semua yang bersekolah, mayoritas akan bisa menulis (bukan sekolah PAUD tentunya). Namun, bagaimana isi tulisan tersebut, bermaknakah, berisikah, berilmukah, atau hanya coretan huruf-huruf tak bermakna? (walau dalam psikologi, setiap goresan itu mempunyai makna tersendiri hehehe). Inilah yang menjadi soal. Tak semua tulisan enak dibaca. Tak semua kata-kata mudah dipahami. Tentu pula tak semua kalimat itu bermakna.

Pendidikan Politik untuk Mahasiswa Segolongan

Pendidikan Politik untuk Mahasiswa Segolongan


Beberapa waktu belakangan ini, bahkan baru saja berakhir, suasana perpolitikan mahasiswa di kampus UGM ramai. Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) baru saja usai. Telah terpilih anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) juga Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM. Sekitar sebelas ribu mahasiswa berpatisipasi dalam pemira tahun ini, jumlah yang hampir tak begitu banyak berubah dari tahun kemarin.
Sedikitnya mahasiswa yang berpatisipasi kadang menimbulkan pertanyaan. Masih representatifkah hasil pemilihan tersebut? Ataupun barangkali, masih diperlukankah lembaga-lembaga mahasiswa tersebut?

Sabtu, November 19, 2011

Nyali

di sini aku dengar
derau angin yang mendesing keras
dan aliran sungai yang runtuhkan nyalimu

di sini aku lihat
awan mendung yang bergerak tinggalkan kita
juga tatapmu yang selalu diam membeku

di sini aku mengerti
hakikat waktu yang diterobos mimpi
beserta nasib yang bukan sekadar buih ombak

di sini aku ingin mendengar
senandung senja yang kau bisikkan pada langit
hingga buat segala semangat kembali bergetar

tak ada pertentangan
tak ada makian
hanya perbedaan yang hantarkan kita menuju impian

Senin, November 14, 2011

Pagi, Alam, dan Ruh #2

Andaikan. Sebuah kata yang sering kita dengar bahkan ucapkan. Manusia memang selalu mempunyai keinginan.  Tapi tentunya tak semua manusia. Bagi beberapa orang tentu saja percaya akan adanya takdir. Sesuatu kondisi dimana kita tak bisa berperan sendirian saja untuk menentukan sesuatu tersebut. Seperti biasanya, ketika sesuatu tersebut terjadi atau diputuskan bahkan memutuskan, kita sering berandai-andai, atau paling tidak berseloroh “seharusnya......”.
Masalah, ya sekali  lagi masalah. Hidup ini selalu terisi dengan masalah. Hanya mereka yang tak hidup yang tak mempunyai masalah. Ketika takdir tadi telah terukir, maka masalah muncul. Entah dalam fase awal, proses, bahkan keputusan final dari takdir tersebut. Masalah adalah hal yang terkadang tak kita ketahui, seringkali pula merupakan sesuatu yang tak kita inginkan. Sebuah pertanyaan besar pun menyeruak. Jika masalah itu adalah segala hal yang tak kita inginkan, lalu mengapa kita hidup? Apakah dahulu kita benar-benar menginginkan hidup?
Hidup sendiri bukan hanya tentang jiwa dan raga. Tapi lebih dari itu, kita mengenal dengan adanya roh juga sukma dalam jawa. Kemana mereka? Hanya sedikit manusia saja yang bisa merasakan juga berinteraksi dengan sukmanya sendiri. Kebanyakan dari kita hanya memikirkan bagaimana raga. Jiwa hanya identik dengan pemikiran-pemikiran serta keahlian yang jelas tak kasat mata. Mungkin memang hal tersebut dapat diimplementasikan, namun melihatnya secara nyata dan langsung, tentu tak mungkin. Apalagi bila terkungkung dalam metodologi ilmiah..
Berbicara soal roh juga sukma, saya teringat pembicaraan dua orang yang entah siapa saya curi dengar. Siang itu di sebuah tempat makan yang begitu ramai, saya terpaksa meminta tempat duduk si samping dua orang yang sedang berbicara seru. Entah apa yang dibicarakan pada awalnya, saya tak peduli. Ketika pesanan datang, saya mulai bosan. Jujur saya  tak membawa buku yang biasanya menjadi teman ketika sendirian seperti ini. Mereka berbincang tanpa memperdulikan saya.
“kamu kenapa pake minum segala coba? Kadang-kadang atau sering?” tanya pria yang kurus dan berambut pendek yang entah siapa namanya. Temannya yang berambut panjang keriting mirip Slash menjawab, “lha piye, pusing, banyak masalah. Jadi ya enaknya minum, buat sekedar melupakan sejenak”.
“hmmmm sekarang coba pikir, setelah minum masalah kamu hilang gak?” sahut si rambut pendek lagi. “ya kagak,” jawab si rambut panjang. “nah, kenapa minum? Yang kamu kasih solusi tu cuma jiwa ma raga kamu, kalau roh kamu gimana? Masih lapar kan? Masih bingung kan?” “ya iyalah, eh tapi maksudnya?” “ya itu tadi, kamu ngrokok, minum, ya seneng, tapi cuma jiwa ma raga kamu. Makanya senengnya cuma sebentar. Sekarang kamu coba inget, kalau sholat, berapa lama kamu senengnya? Atau plong-nya minimal,  lama to. Itu karena roh kamu yang kamu kasih makan.” Jleb...serasa tertusuk hati saya.
Jujur selama ini saya juga termasuk orang yang masih belum bisa mengerti bahasa hati bahkan bagaimana keinginan si roh atau sukma dalam tubuh ini. Setidaknya percakapan tadi makin memahamkan saya bahwa terkadang logika ada batasnya. Terlalu banyak pula kita bertumpu pada logika, terkadang pula kita terlalu bertumpu pada takdir, dan sesekali kita bertumpu pada keberuntungan. Seakan-akan kita lupa tentang prinsip keseimbangan. Mereka yang merasa paling benar dan merasa suci (menganggap yang lain salah) kadang lupa bahwa keseimbangan itu ada. Sebuah pertanyaan liar kembali menyeruak. Jika kita tak mengenal roh kita sendiri, lalu bagaimana perhitungan nanti? Siapa yang mempertanggungjawabkan?
Saya seringkali merenung sendiri atau mengurung diri dalam kamar hanya untuk sekedar diam dan mencoba mengerti pertanyaan-pertanyaan yang sering liar muncul ini. Saya sendiri tak tahu bagaimana awal dan akhirnya. Namun setidaknya saya yakin bahwa Dia itu sempurna dan semua tentu saja bisa dipertanyakan pada-Nya.

Bersambung........

Kamis, November 03, 2011

pagi......


PAGI, ALAM, DAN RUH

Pagi ini seperti biasa, mata terbuka ketika mentari baru saja hampir naik. Setidaknya pagi masih berlangsung dimana kicauan burung masih ribut menyambutnya. Pagi selalu menjadi hal tersendiri. Tenaga masih terkumpul untuk satu hari penuh setelah kita berbaring sejenak dan melupakan segala yang terjadi sebelumnya dalam mimpi penuh misteri yang tak pernah kita bisa mengendalikannya.
Berbicara soal mimpi maka selalu akan timbul tanda tanya besar. Kita yang terbiasa dikendalikan oleh otak secara inderawi menjadi lemah dan tak mampu berbuat apa-apa soal mimpi. Bahkan ada rasa, secara penglihatan kita tertipu. Semua yang tergambar dalam mimpi seakan-akan benar-benar terjadi di hadapan kita secara nyata. Mata jelas tertipu. Ketika tidur mata kita tertutup, tetapi perasaan kita saat kita bermimpi mengirimkan stimulus bahwa hal itu sperti benar terjadi adanya. Mungkin inilah yang dipikirkan einstein ketika berujar bahwa imajinasi lebih penting daripada ilmu pasti.
Biologi menjelaskan secara nyata bagaimana syaraf penglihatan kita bekerja saat menerima rangsang cahaya dari benda-benda. Sebuah kenyataan besar mengalahkan hal tersebut. Seperti yang saya ungkapkan di atas, mata kita tertipu dengan kata lain syaraf-syaraf tersebut tak mampu lagi dijelaskan secara ilmu pasti.
Pertanyaan besar pun masih mengemuka pagi ini. Terbangun ketika mentari sudah mulai merangkak pelan menuju cakrawala dengan segala keteraturan alam semesta yang begitu sempurna. Masih saja saya tak mengerti. Mana mungkin rasio akal pikiran kecerdasan manusia mampu menjelaskan semua tersebut secara patokan manusia yang disebut ilmiah? Itu terbukti sampai kini. Tak ada manusia di belahan alam semesta manapun yang mampu menjelaskan hal tersebut.
Manusia memang mahluk yang congkak. Rasio sendiri yang mengatakan hal demikian. Manusia membabat alam sampai hampir habis lalu kebingungan sendiri ketika alam mulai menjadi tak seimbang. Parahnya, manusia tak pernah mau disalahkan seorang diri. Saya masih bertanya, mengapa manusia menyalahkan binatang sebagai sumber-sumber penyakit tertentu. Flu salah satunya. Saya sempat terpikir sebah pertanyaan. Apakah sejak dulu memang sudah ada flu pada binatang? Atau manusia yang mengganggu keseimbangan alam sehingga muncul virus flu? Atau malah manusia sendiri yang menciptakan virus flu?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum mampu saya jawab, mungkin saja si google bisa sehingga saya juga bisa nantinya.
Bersambung....................

Jumat, September 30, 2011

buangan


Siang tadi terasa lebih lambat dari biasanya. Terik matahari yang menyengat, sedikit merayapnya kendaraan yang biasanya lancar, semakin membuat lambat rasanya dan memang makin lambat ternyata. Bau keringat bercampur dengan asap knalpot yang makin menyesakkan suasana. Ya, bis jogja solo yang saya tumpangi ini merayap memakan meter demi meter jalanan. Suara bising deru mesin yang jelas terdengar ditelinga pun menjadi nada-nada tersendiri. Lambat, merayap, panas, milik rakyat.
Pikiran mulai terbang, seandainya naik motor sendiri atau mobil sendiri mungkin lebih nikmat. Tak perlu merayap. Tak ada bau keringat apalagi ketiak orang tak dikenal. Lebih irit di kantong pribadi, selain itu juga lebih bisa mengestimasi keberangkatan dan juga kedatangan.
Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah ramah lingkungan, global warming, sampai dengan go green. Semua hal tersebut pada intinya adalah tentang usaha bagaimana membuat bumi sedikit lebih ramah atau dalam bahasa saya sebagai cara untuk memperlambat kehancuran bumi. Usaha tersebut memakai banyak cara, salah satunya adalah penggunaan transportasi masal, yang berarti meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi, dalam hal ini yang berupa kendaraan bermotor tentunya.
Banyak yang menentang penggunaan kendaraan pribadi yang semakin meningkat. Siapa yang disalahkan atas hancurnya ozon? Polusi udara jawabnya dan dilimpahkan pada asap-asap knalpot juga pabrik yang semakin tebal. Siapa dalangnya? Beragam pula jawabnya, tetapi sebagian besar mengatakan bahwa negara dengan banyak mobil lama yang emisinya besar menjadi biang keroknya. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Lebih berwarna lagi jawabnya. Ada yang menyalahkan negara maju yang tentu saja lebih banyak industrinya. Namun, ada pula yang menyalahkan negara berkembang dimana memang belum sebaik negara maju pengolahan limbahnya.
Semua itu seakan jadi kata-kata semu. Perdebatan yang saya yakin tak akan ada habisnya. Semua tentu saja akan saling membela diri mereka masing-masing. Namun sedikit dari siang tadi. Saya dengan sok aksi mencoba sok peduli lingkungan. Saya pergi ke solo tanpa memakai motor butut saya sendiri. jam 11.00 WIB tepat saya mulai langkah kaki menuju halte trans jogja terdekat. Belum sampai halte, kaos yang saya pakai sudah basah kuyup oleh keringat. Belum ada wewangian yang muncul untungnya. Sampai di halte bis yang kutunggu tak kunjung datang. Detik jam pun mulai bertalu-talu. 1 jam kemudian baru si ijo itu tiba. Di dalam bis agak lumayan, sayangnya sampai di gedong kuning si ijo ini berhenti lama. Si sopir dan kernet ganti shift ternyata, tapi sayangnya tak ada penjelasan pada kami para penumpang, mengapa ini berhenti lama? Si komo lewatkah? Atau mengapa? Sekitar 20 menit berhenti dengan hati penuh tanya maka akhirnya si sopr pengganti dengan gagah perkasa masuk ke dalam bis. Bis pun melaju kembali tanpa ada permintaan maaf.
Akhirnya sampai juga di janti, saya mencoba bersabar. Solo yang menjadi tujuan masih jauh di depan sana. lanjutnya harus menaiki bis jogja-solo yang jelas lebih mengkhawatirkan daripada bis ijo tadi. Bayangkan jogja solo ini saya tempuh dengan waktu 4 jam. Itu sudah dengan perhitungan naik si ijo tadi. Rasanya seperti membuang waktu yang jelas-jelas tak mungkin bisa kembali lagi.
Saya kemudian berpikir, di era mobilisaasi yang tinggi seperti ini, dimana waktu benar-benar berharga dan dengan cepatnya berubah, kita diminta kembali untuk melambat. Jauh melambat ke masa-masa sebelumnya. Betapa tidak menyenangkannya kita? Sebuah kewajaran saya rasa ketika banyak manusia di negara kita yang tetap memilih kendaraan pribadi tanpa perduli macet apalagi polusi yang dikeluarkan. Bagaimana tidak? Jika transportasi umum tetap seperti ini terus maka siapa yang mau? Tapi bukan berarti saya pesimis. Saya pikir jika nanti, sekali lagi jika nanti transportasi ini benar-benar diperhatikan maka akan berbeda segalanya. Ramah lingkungan pun  bukan hanya jadi slogan dan semua tidak hanya saling menyalahkan. Saya pikir mereka yang membuat kampanye ramah lingkungan tadi juga mungkin akan tetap memilih kendaraan pribadi mereka masing-masing bila keadaan transportasi umum tetap seperti ini. Sikap kita sendiri bagaimana? Ya kita tahu jawabnya. Setidaknya jalan kaki ataupun membuang waktu berpanasan juga berarti mengurangi polusi udara.

Kamis, Agustus 11, 2011

Lalu

Waktu selalu jadi musuh. Ia tak mengenal toleransi. Tanpa pandang bulu ia terkam detik demi detik. Tak peduli kau, aku, dia, bahkan mereka mulai mengejang, mengaduh, merintih tak kuasa kendalikanmu. Entah mengapa ia sendiri tak berpatokan. Tiap penanda detik teknologi modern hanyalah sebagai penunjuk adanya dirimu. Tak lebih seperti obat penenang di otak-otak tiap kepala yang tak pernah berhenti mengingat. 

Kemarin lusa masih kurasa kau berjaan begitu cepat bersamaku. Seakan kau  menggenggam erat kedua tanganku dan melompat naik di bahuku. Jarak kita menjadi begitu dekat dan saat itu pula kau menjadi musuhku karena kau berjalan begitu cepat.

Adakah yang mampu mengendalikanmu? Agar kau mampu bersahabat denganku juga manusia-manusia yang sekadar ingin hidupnya lebih berputar tak tentu. Agar kau tak melesat terlalu jauh menipu tiap mata yang melihat dan merasa adanya dirimu.

Kau tak mengerti rupanya. Perjumpaanku dengannya kemarin adalah nafas bekal semangatku untuk mengahadapimu. Tiap tatapan matanya ialah api harapanku untuk menghantuimu. Tapi kau tetap acuh, lalu berjalan semakin cepat dan pergi tinggalkan kami berdua dalam keheningan benda berasap yang antarkan kami berpisah. Kau pun tertawa lalu kembali melambat. Bermain dengan arus jalan yang tak kukenal. Kau seakan senang melihatku menanti saat dimana kau berbaik hati dan mau berdamai denganku untuk berbicara tentang hal yang masih tak kumengerti. Kau seakan bahagia melihatku kebingungan mencari celah sampai kau datang padaku untuk mengantarku kembali padanya.

Waktu adalah musuh. Ia tak mengenal toleransi juga belas kasih. Sampai ia berdamai denganku dan menuntunku pada garis baru antara aku dengannya.


Selasa, Juli 19, 2011

Asumsi dari Asumsi

 
Akeh wong ngedol ngelmu
Akeh wong ngaku-aku
Njabane putih njerone dhadhu
Ngakune suci, nanging sucine palsu
Petikan di atas adalah bagian dari ramalan Jayabaya. Sebuah warisan sejarah dari masa lampau yang entah mengapa hampir semua terbukti saat ini.
Ramalan sendiri tak lain adalah perkiraan atau bisa juga disebut asumsi. Manusia selalu berasumsi akan sesuatu. Mula-mula melihat lalu berasumsi dengan otak mereka masing-masing. Bahkan terkadang manusia melibatkan emosi dalam asumsinya.
Ilmu sendiri berawal dari asumsi-asumsi. Archimedes berasumsi tentang berat jenis air lalu ia membuktiknnya. Galileo berasumsi terlebih dahulu tentang teori haleosentris dan ia pun membuktikannya. Einstein pun berasumsi terlebih dahulu bahwa lintasan planet-planet berbentuk elips bukan bulat sempurna.
Tiap orang mempunyai asumsi yang benar atau bisa dibilang meyakini asumsinya masing-masing. Asumsi yang terkadang membuat kita lupa bahwa asumsi hanya sekadar perkiraan dan bisa jadi salah. Seorang yang terpelajar biasa berasumsi bahwa mereka harus membenahi hidup orang yang kurang terpelajar. Hal ini dikarenakan si kurang terpelajar hidupnya harus banting tulang namun tak kunjung juga mampu hidup dengan layak misalnya. Ini seperti sebuah perasaan tanggung jawab terhadap yang lain. Namun, seorang manusia terkadang lupa bahwa jalan cerita keinginan hidup tiap orang itu berbeda. Pernahkan kita menanyakan apakah mereka yang kita katakan kurang layak hidupnya itu membutuhkan bantuan kita?
Lain halnya dengan bangku kuliah. Sebuah asumsi menjadi suatu hal yang penting dalam menganalisa suatu kasus. Tanpa asumsi maka tentu saja tak akan ada hipotesa dengan begitu gugurlah keingintahuan. Seperti contoh yang nyata, pemerintah berasumsi bahwa Mbah Maridjan ketika Merapi sedang erupsi harus mengungsi demi keselamatan jiwa. Namun apakah beliau setuju dengan asumsi tersebut? Kadang kita lupa bahwa kebanyakan dari masyarakat jawa punya suatu pegangan yaitu nrimo ing pandum, urip mati iku kuasane Gusti. Ini merupakan sikap pasrah terhadap sang pencipta. Memang pada akhirnya Mbah Maridjan tewas terkena lahar panas. Tetapi setidaknya beliau tetap percaya pada asumsinya sendiri dan tidak takut menghadapi kematian seperti yang lain. Karena mati adalah sesuatu yang tetap sejak kita belum dilahirkan.
Mungkin ini lebih seperti pendekatan a-priori, pendekatan yang mendahului pengalaman inderawi. Seperti ramalan Jayabaya di atasyang juga a-priori. Kita sebagai orang yang terpelajar sering kali memandang hal-hal macam itu dengan penolakan. Namun pernahkah kita memandang hal itu melalui sudut pandang yang lain? Bila diartikan maka ramalan hampir sama dengan sebuah hal yang diperhitungkan atau prediksi. Itulah asumsi. Hal tersebut bila kita sedikit dicerna bisa juga dipahami sebagai peringatan kepada generasi penerus. Sayangnya itu tak tersampaikan dan prediksi yang ditulis Jayabaya benar-benar terjadi saat ini.
Kita kembali lagi terhadap asumsi. Setiap manusia selalu berasumsi. Ketika membuat taman maka kita berasumsi bahwa taman yang bagus adalah taman yang indah di waktu malam. Di lain waktu kita berasumsi bahwa yang dibutuhkan mahasiswa adalah gedung baru tempat kegiatan mereka berlangsung. Mahasiswa sendiri berasumsi tentang mahasiswa yang ideal adalah mahasiswa yang cepat lulus dan mendapat nilai baik. Si perguruan tinggi  berasumsi untuk menjaga nama yang katanya besar maka harus juga ikut arus zaman menjadi kampus yang katanya educopolis. Asumsi terus saja berjalan dan seperti biasa, pemilik asumsi akan lupa menanyakan apakah itu yang diinginkan si obyek asumsi. Seperti asumsi dalam tulisan ini, yang tak pernah mempertanyakan asumsi dari pembaca yang juga selalu berasumsi.